Rabu, 20 April 2011

Sri Mulyani Indrawati: Bank Dunia Sungguh Memacu Adrenalin Saya

#
Sri Mulyani Indrawati:
Bank Dunia Sungguh Memacu Adrenalin Saya

PERJUMPAAN itu bagaikan homecoming yang meriah di Hotel Laguna, Nusa Dua, Bali. Sri Mulyani Indrawati melangkah ke ruangan yang dihadiri peserta pertemuan menteri keuangan ASEAN ke-15 pada Jumat, 8 April lalu. Sederet wartawan yang tengah giat membidik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta sejumlah figur penting lain terperangah sejenak, lalu serentak berbalik arah, menyongsong Ani-begitu Sri Mulyani biasa disapa. Segar dan semampai dalam balutan batik biru pucat berhiasan motif bunga-daun berkelir cokelat moka, Ani menebar senyum. Kamera-kamera kontan membalasnya dengan sepadan: menjepret dia berulang kali dalam kilatan lampu blitz.



Undur dari kursi Menteri Keuangan Indonesia Bersatu II per 1 Juni 2010, Sri Mulyani pindah ke Washington, DC, Amerika Serikat, pada bulan yang sama. Ia mengisi pos barunya sebagai Managing Director Bank Dunia. Lingkup tanggung jawabnya meliputi kawasan Amerika Latin dan Karibia, Asia Timur dan Pasifik, Timur Tengah dan Afrika Utara. Sejak pindah ke ibu negeri AS itu-selepas periode panas, gencar, dan melelahkan dalam kasus Bank Century-inilah pertama kali Sri Mulyani hadir dalam forum internasional di Indonesia.

Namanya kian kerap disebut sebagai salah satu kandidat calon Presiden Indonesia periode 2014. Tapi Sri Mulyani hanya tersenyum tatkala ditanyakan perihal ini. "Bank Dunia memberi saya banyak sekali pekerjaan yang menantang. Jadi saya perlu konsentrasi penuh untuk memikul tugas ini dengan sebaik-baiknya," sahutnya. Dua hari di Bali, skedul Ani dipadati aneka agenda formal. Toh, tetap ada suasana "pulang kampung": bertemu dengan banyak kolega dan kawan dari masa dulu, termasuk menemui bekas atasannya di Kabinet Indonesia Bersatu II, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Di sela-sela segala kesibukan itu, Ani memberi wawancara khusus kepada wartawan Tempo Hermien Y. Kleden dan Yuli Ismartono, serta fotografer Ijar Karim. Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Stefan G. Koerbele, Kepala Ekonom Bank Dunia di Indonesia Subham Chaudhuri, dan Penasihat Managing Director Robert Saum turut menemani. Berlangsung di suite eksekutif Laguna, Nusa Dua, perbincangan itu makan waktu sekitar 50 menit. Sri Mulyani menjawab setiap pertanyaan dengan fasih, fokus, sesekali diselingi bahasa Inggris. Dan, kali ini, nyaris tanpa off the record.

Apa poin penting kehadiran Bank Dunia di forum menteri keuangan ASEAN ke-15 ?

Bank Dunia biasa diundang dalam pertemuan menteri keuangan ASEAN. Mereka membutuhkan perspektif global dalam melakukan assessment perkembangan ekonomi dan keuangan, baik di negaranya masing-masing maupun di tingkat regional. Relevansi ASEAN kian diperhitungkan dalam membentuk kebijakan bersama di level regional dan internasional. Penting bagi Bank Dunia hadir di sini: untuk memelihara kemitraan yang telah ada sekaligus menjaga stabilitas dan keseimbangan perekonomian dunia.

Dalam konteks ASEAN-Bank Dunia, apakah ada yang diperbarui dalam pertemuan ini?

Yang baru adalah sesudah krisis 2008-2009, peran Asia menjaga keberlangsungan pemulihan (ekonomi) kian penting. Asia-dan ASEAN-tidak bisa lagi hanya mengandalkan faktor eksternal. Selama ini ASEAN amat diuntungkan sebagai kawasan yang memanfaatkan pasar global untuk menciptakan pertumbuhan, lapangan kerja, dan kemakmuran. Sekarang mereka harus berperan sebagai mesin pertumbuhan untuk dirinya sendiri.

Mampukah ASEAN bersaing dengan raksasa seperti Cina dan India?

Cina dan India bukan pesaing ASEAN. Struktur dan masa depan perekonomian Cina memperlihatkan mereka kian butuh format lain untuk menjaga perekonomiannya. Ada kebutuhan mutualistik dengan negara-negara lain. Kenapa demikian? Pertama, surplus tenaga kerja Cina makin menurun, upah buruh kian mahal. Kedua, akumulasi cadangannya amat besar. Dua hal itu membuat Cina harus menyesuaikan kebijakan domestiknya, dan ini menguntungkan posisi ASEAN. Karena Cina membutuhkan negara lain untuk terus bertahan serta meningkatkan perekonomiannya.

Bagaimana agar Bank Dunia berperan makin signifikan dalam mendorong perbaikan ekonomi negara berpenghasilan menengah?

Peran Bank Dunia pada negara berpenghasilan menengah sebetulnya amat relevan dengan kebutuhan negara itu mereformasi ekonominya di level kebijakan dan institusional. Mereka butuh banyak investasi infrastruktur, pendidikan, kesehatan. Mereka perlu mempertahankan serta meningkatkan posisi menjadi negara berpenghasilan tinggi. Bank Dunia punya banyak pengetahuan untuk menjadi jembatan antarnegara, menjadi fasilitator, berbagi pengetahuan. Reformasi institusi amat dibutuhkan. Ini bukan soal mudah. Kita lihat betapa Eropa dan Amerika Serikat juga mengalami masalah lembaga keuangan dan regulasi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Tentunya sama. Dulu saya ingatkan bahwa reformasi bidang infrastruktur dan pendidikan di Indonesia amat pelik, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Reformasi di bidang institusi lebih pelik lagi. Seperti yang mungkin saya lakukan dulu di bidang pajak, bea-cukai, pasar modal, asuransi. Itu semua perlu institusi regulator efektif, berwibawa, bersih, sehingga dapat menjaga integritas mekanisme pasar. Dengan demikian, reformasi tak membahayakan masyarakat kecil dan mampu menciptakan kemakmuran secara adil. Itulah sebenarnya esensi suatu reformasi, dan merupakan bagian tersulit karena berhubungan dengan kualitas dan kompetensi pembuat kebijakan serta integritas sistem.

Setujukah Anda bahwa reformasi dan good governance sangat urgen bagi negara-negara middle income dan bukan fenomena spesifik Indonesia?

Definitely. Apa yang terjadi di Timur Tengah sekarang dan di Afrika Utara (menunjukkan hal itu). Tema ini menjadi amat-sangat relevan. Di banyak region, Bank Dunia giat mengangkat tema inclusiveness. Lalu reformasi birokrasi, dan akuntabilitas publik. Orang berdebat tentang apa itu korupsi. Dulu ini dianggap masalah politik. Kualitas gender, dulu dianggap masalah politik, ekonomi, atau kedua-duanya? Bank Dunia, sebagai institusi pembangunan, hanya dapat berperan bila negara-negara ini memintanya. Karena kami beroperasi di suatu negara atas permintaan. Tapi Bank Dunia-dengan kepemilikan 187 negara-kian menyadari betapa institutional building dan reformasi institusi publik (amat diperlukan) untuk menjalankan fungsi yang jujur dalam sistem global. Institusi publik yang efektif menjadi isu utama.

Dari pengalaman di Indonesia, apa saja yang diperlukan untuk merawat kelangsungan reformasi birokrasi?

Reformasi tak boleh bergantung pada satu orang atau satu rezim. Ada dua pihak yang harus terus-menerus berjalan dalam reformasi. Pertama, masyarakat yang menghendaki (reformasi). Masyarakat sipil yang efektif dan berpengetahuan merupakan prakondisi kelangsungan reformasi. Di negara Timur Tengah, dan Cina, misalnya, akses informasi, data, dan transparansi menjadi tuntutan publik. Di Amerika Latin yang amat demokratik dan terbuka, mereka harus terus-menerus menjaga momentum tuntutan agar transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab dapat dilaksanakan. Kedua, institusi publik yang mau bertanggung jawab kepada masyarakat. Institusi publik tidak hanya pemerintah, tapi bisa yudisial, legislatif, eksekutif. Reformasi hanya muncul jika checks and balances serta demand and supply efektif berinteraksi dalam satu kekuatan cukup seimbang.

Bagaimana posisi Indonesia dalam hal good governance, terutama untuk bersaing di dunia global sekarang?

Daya saing kan ukurannya macam-macam. Kalau di Bank Dunia, ada good business indicator yang menggambarkan seberapa banyak halangan melakukan bisnis yang baik. Sebenarnya ini berhubungan dengan governance: apakah aturan terlalu berbelit-belit, penegakan aturan tidak adil, implementasinya bermasalah, lapisan di birokrasi kian banyak. Dalam hal doing business, Indonesia (ada di peringkat) 121.

Mana lebih gampang, menjadi Menteri Keuangan Indonesia atau Managing Director Bank Dunia?

Ha-ha-ha..., keduanya memberikan tantangan berbeda. Di Indonesia, sebagai Menteri Keuangan, (saya) fokus pada satu negara, dan memimpin satu institusi dengan 64 ribu orang. Ini institusi besar, tapi dalam satu negara saja. Di Bank Dunia, saya harus mengatur 74 negara. Jadi, bagaimana, ya, membandingkannya? Pada intinya, satunya lebih in-depth, satunya lebih cross-sectional.

Pengalaman menjadi Menteri Keuangan di negara kita seberapa besar membantu Anda di Bank Dunia?

Banyak sekali! Pengalaman saya sebagai Menteri Keuangan kini dapat saya share secara universal. Sewaktu ke Amerika Latin, Timur Tengah, dan Asia-Pasifik, saya bisa berkomunikasi amat baik dan mudah dengan para presiden, perdana menteri, menteri keuangan. Di Kolombia, saya berbagi soal desentralisasi. Di Peru, tentang menciptakan suatu transfer dari resources yang adil. Di Filipina, Presiden Aquino yang baru hendak meluncurkan reformasi antikorupsi di pajak. Saya bisa bicara pada Menteri Keuangan Filipina dengan jelas, spesifik, dan teknis. Mereka lantas mendapat ide mempercepat reformasi.

Wah, benarkah sedemikian bermanfaat?

A lot, a lot! Bicara tentang badan usaha milik negara (state-owned enterprise) maka kita mulai dari Timur Tengah. Sekarang, negara-negara di sini, umpamanya saja Vietnam, punya banyak badan usaha milik negara. Atau di Brasil. Mereka bicara bagaimana agar BUMN menjadi usaha efektif dan tak ringkih karena di-abuse oleh birokrat dan politikus. Problem-problem ini sama di mana-mana. Jadi pengalaman sebagai Menteri Keuangan luar biasa menolong, terutama dalam hal pengalaman dan pengetahuan, yang dapat saya bagikan kepada banyak negara di dunia.

Bagaimana dengan isu pencalonan Anda sebagai Presiden RI pada 2014?

Well, I'm having now a very challenging job as a Managing Director of the Bank. Saya harus mengurusi tiga region yang amat dinamis. Dan sesungguhnya saya mewakili kita semua sebagai "ambassador of Indonesia". Jadi, kalau saya malu-maluin, kan yang malu bukan cuma saya. Itu sebabnya saya perlu fokus pada pekerjaan sekarang. Indonesia will be seen as an able person, that we can do the job well. Jadi bukan hanya sekelompok manusia di khatulistiwa yang residual. Saya menjalankan peran ini dengan sepenuh kesadaran, bahwa saya mewakili lebih dari 200 juta warga. Orang tidak akan melihat saya sebagai Sri Mulyani belaka, tapi Sri Mulyani sebagai salah satu contoh Indonesia. Itu beban yang saya pikul sekarang. Karena itu, saya memerlukan konsentrasi penuh.

Oke, tapi boleh kami tahu apa bagian tersulit hidup di Washington?

Ha-ha-ha..., musim dinginnya terlalu panjang, dan terlalu dingin. Tapi ada Bank (Dunia) yang hangat. Mereka menyediakan berbagai tantangan yang sehat bagi saya. Betul bahwa tidak selalu mudah, tapi sungguh memacu adrenalin. I think I'm enjoying the challenges.

SRI MULYANI INDRAWATI

Tempat dan tanggal lahir: Tanjung Karang, Lampung, 26 Agustus 1962

Pendidikan:
# Sarjana, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1981-1986)
# Master of Science of Policy Economics, University of Illinois Urbana Champaign, USA (1988-1990)
# PhD of Economics University of Illinois Urbana Champaign, USA (1990-1992)

Pekerjaan:
# Staf Pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) dan Peneliti di LPEM Fakultas Ekonomi UI (1998-2004)
# Anggota Dewan Ekonomi Nasional (1999-2001)
# Konsultan USAID di Atlanta, Georgia, AS (2001-2002)
# Direktur Eksekutif IMF (2002-2004)
# Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas (2004-2005)
# Menteri Keuangan (2005-Mei 2010)
# Managing Director Bank Dunia (mulai Juni 2010)





3 komentar:

  1. Blog dan artikelnya bagus, komentar juga ya di blog saya www.when-who-what.com

    BalasHapus
  2. Blog dan artikelnya bagus, komentar juga ya di blog saya http://ceritaserudewasa.blogspot.com

    BalasHapus
  3. Numpang komentar nih, blog dan artikelnya bagus juga, komentar juga ya di blog saya www.memebee.net

    BalasHapus